Sumur-sumur mulai kering. Kau tahu kan sudah berbulan-bulan hujan
enggan mengguyur daerah kita? Bahkan mungkin negara kita. Yang terbaru,
berbagai daerah sudah dipenuhi debu yang menyesakkan. Kau juga dengar
beritanya, kan? Entah kenapa hujan tak kunjung turun, tapi kurasa bukan
karena lelah seperti aku yang mulai lelah berdo'a tanpa dikabulkan.
Untaian do'aku sudah lebih lama terucap dari musim kemarau. Sejak banjir
menyapa hingga kekeringan melanda. Tapi hingga kini belum terkabul
juga.
Padahal aku hanya minta rezeki supaya tahun ini bisa membeli seekor sapi untuk berkurban. Tiap hari, aku berusaha menyisihkan uang, bahkan tak sepeser pun rela kuberikan untuk pengamen yang kutemui di jalan. Bisa kau bayangkan kan jika aku memberikannya pada mereka? Tentu uangku akan berkurang. Kalau sudah begitu, bagaimana aku bisa mengumpulkan uang dengan cepat, ya kan?
Nyatanya, sampai Idul Adha terlewati, aku tak kunjung membeli sapi. Tapi untuk kali ini, aku rela berbagi air karena hanya sumurku yang masih mengalirkan air. Sejak tadi pagi, sumurku tak kunjung sepi. Hingga malam hampir larut, masih saja ada yang mengetuk pintu rumahku.
"Maaf Nyonya, saya mengganggu tengah malam begini. Tapi saya butuh air segera. Kalau tidak, sapi-sapi saya bisa mati." Katanya panik.
Aku tertegun, hanya untuk sapi, seorang wanita rela berjalan menerobos gelapnya malam? Aneh! Pikirku.
Karena berbagi air tak membuatku miskin, aku pun memperbolehkannya.
"Ambillah yang banyak agar kau tak perlu mondar-mandir esok malam. Kalau kau kembali besok pagi, pasti sumurku ramai." Kataku sedikit dingin.
Wajah si ibu menyiratkan kegembiraan. Usai berterima kasih, ia lekas pergi mengambil air, sementara aku memilih kembali tidur.
***
Seminggu berlalu sejak wanita itu mengetuk pintu rumahku untuk meminta air. Hujan sudah satu kali turun. Meski tak lama, tapi mampu membasahi sumur-sumur tetanggaku. Hanya tinggal beberapa rumah saja yang masih kekeringan dan meminta air di rumahku.
Aku memperhatikan satu per satu warga datang silih berganti hingga si wanita itu datang lagi.
"Persediaan air untuk sapi-sapimu habis?" Tanyaku tanpa basa-basi.
Ia menggeleng. Dan kau tahu? Ia malah tersenyum penuh arti.
"Itu... untuk nyonya." Katanya seraya menunjuk salah satu arah di belakangnya.
Aku menoleh, melampaui bahu si wanita. Sepersekian detik, aku tertegun.
"Untukku?" Aku memastikan.
Si wanita mengangguk mantap.
"Sebagai ucapan terima kasihku. Tolong jangan ditolak, aku mohon. Karena berkat nyonya, sapi-sapiku bisa selamat."
Perlahan, aku menarik garis senyuman dan mengangguk.
"Terima kasih." Kataku dengan mata berkaca-kaca.
Setelah si wanita enyah dari hadapanku, aku menangis tesedu menatap seekor sapi muda yang seolah balik menatapku. Aku bersyukur, biarpun aku gagal berkurban tahun ini karena sapi muda itu akan jadi tabunganku untuk berkurban di tahun yang akan datang. Aku baru mengerti kalau rumus memberi sama dengan menambah rezeki.
Jadi, mana yang akan kau ambil dari kisahku?
Padahal aku hanya minta rezeki supaya tahun ini bisa membeli seekor sapi untuk berkurban. Tiap hari, aku berusaha menyisihkan uang, bahkan tak sepeser pun rela kuberikan untuk pengamen yang kutemui di jalan. Bisa kau bayangkan kan jika aku memberikannya pada mereka? Tentu uangku akan berkurang. Kalau sudah begitu, bagaimana aku bisa mengumpulkan uang dengan cepat, ya kan?
Nyatanya, sampai Idul Adha terlewati, aku tak kunjung membeli sapi. Tapi untuk kali ini, aku rela berbagi air karena hanya sumurku yang masih mengalirkan air. Sejak tadi pagi, sumurku tak kunjung sepi. Hingga malam hampir larut, masih saja ada yang mengetuk pintu rumahku.
"Maaf Nyonya, saya mengganggu tengah malam begini. Tapi saya butuh air segera. Kalau tidak, sapi-sapi saya bisa mati." Katanya panik.
Aku tertegun, hanya untuk sapi, seorang wanita rela berjalan menerobos gelapnya malam? Aneh! Pikirku.
Karena berbagi air tak membuatku miskin, aku pun memperbolehkannya.
"Ambillah yang banyak agar kau tak perlu mondar-mandir esok malam. Kalau kau kembali besok pagi, pasti sumurku ramai." Kataku sedikit dingin.
Wajah si ibu menyiratkan kegembiraan. Usai berterima kasih, ia lekas pergi mengambil air, sementara aku memilih kembali tidur.
***
Seminggu berlalu sejak wanita itu mengetuk pintu rumahku untuk meminta air. Hujan sudah satu kali turun. Meski tak lama, tapi mampu membasahi sumur-sumur tetanggaku. Hanya tinggal beberapa rumah saja yang masih kekeringan dan meminta air di rumahku.
Aku memperhatikan satu per satu warga datang silih berganti hingga si wanita itu datang lagi.
"Persediaan air untuk sapi-sapimu habis?" Tanyaku tanpa basa-basi.
Ia menggeleng. Dan kau tahu? Ia malah tersenyum penuh arti.
"Itu... untuk nyonya." Katanya seraya menunjuk salah satu arah di belakangnya.
Aku menoleh, melampaui bahu si wanita. Sepersekian detik, aku tertegun.
"Untukku?" Aku memastikan.
Si wanita mengangguk mantap.
"Sebagai ucapan terima kasihku. Tolong jangan ditolak, aku mohon. Karena berkat nyonya, sapi-sapiku bisa selamat."
Perlahan, aku menarik garis senyuman dan mengangguk.
"Terima kasih." Kataku dengan mata berkaca-kaca.
Setelah si wanita enyah dari hadapanku, aku menangis tesedu menatap seekor sapi muda yang seolah balik menatapku. Aku bersyukur, biarpun aku gagal berkurban tahun ini karena sapi muda itu akan jadi tabunganku untuk berkurban di tahun yang akan datang. Aku baru mengerti kalau rumus memberi sama dengan menambah rezeki.
Jadi, mana yang akan kau ambil dari kisahku?
No comments:
Post a Comment