Muhasabah CINTA (Cerita dan Inspirasi Tahajjud) bersama Ust. Uti Konsen U.M.
Rasulullah saw bersabda, Ketika Allah swt mengumpulkan
manusia pertama sampai terakhir, akan datang seseorang yang menyeru dengan
suara yang dapat didengar segala khalayak. “Seluruh yang berkumpul hari ini
akan mengetahui siapa yang paling pantas mendapat kemuliaan”. Kemudian penyeru
itu kembali berseru, “Berdirilah wahai orang-orang yang dahulu lambung mereka
jauh dari tempat tidurnya”. Ternyata jumlah mereka hanya sedikit.
Pada suatu malam di Yerussalem, Ibrahim bin Adham mendengar
suatu suara dari arah Sakharahah bahwa sejumlah orang berkata, “Jangan
tinggalkan shalat tahajud karena ia dapat memadamkan nyala api neraka dan
meneguhkan tempat berpijak di atas al sirath”.
Dikisahkan seseorang di hari pembalasan, diadili oleh Allah.
Atas saksi-saksi seluruh tubuhnya yang berbicara satu per satu. Ia amat berduka
karena pasti dijebloskan ke neraka. Tiba-tiba bulu matanya berkata, “Terus terang
saja, menjelang ajalnya pada tengah malam, aku pernah dibasahi dengan air
matanya. Ia menangis menyesali perbuatan buruknya itu. Ia betul-betul bertaubat
di tengah malam ketika tahajud”, ujar bulu mata.
Bukankah Nabi saw berjanji bahwa apabila seorang hamba
melakukan dosa, kemudian bertaubat, walaupun selembar bulu mata dibasahi air
matanya, maka cukup memperoleh ampunan dosa, terhindar dari ancaman api neraka.
Rasulullah saw bersabda kepada Abu Hurairah r.a. salah
seorang sahabat dekatnya, “Wahai Abu Hurairah. Maukah engkau mendapatkan
karunia Allah yang abadi, baik hidup atau mati, di dalam kubur atau ketika
dibangkitkan di hari kiamat kelak? Bangunlah di waktu malam, dan lakukan
shalat. Apakah engkau mengharapkan perkenan Tuhan, wahai Abu Hurairah? Bershalat
malamlah di pojok rumahmu, niscaya rumahmu akan bersinar bagaikan cahaya dan bintang
seperti dilihat orang-orang di bumi”.
Umar bin Khattab r.a. berpesan, “Jadikanlah malammu rindu
kepada Tuhan, sepi dari pandangan, ambillah kesempatan pada malam itu,
jadikanlah ia jalan dari persiapan untuk hari kiyamah yang padanya sulit sekali
mencari jalan”.
Begitu utamanya shalat tahajud maka Ummu Sulaiman bin Daud
berwasiat kepada anaknya, “Wahai putraku hendaklah engkau tidak tidur malam. Sebab,
orang yang tidur malam tidak punya kebaikan di hari penghisaban”.
Yazid bin Al Raqasyi
berkata, “Shalat malam merupakan pelita bagi orang muslim yang akan menuntunnya
dari segala penjuru di hari kiamat kelak, sedang puasa di siang hari akan
menjauhkan seseorang hamba dari panasnya neraka sair”.
Tsabit Al Banani juga berpesan, “Bangun dan shalat malamlah
kalian. Sebab ibadah malam dapat menolong kalian dari kesulitan di hari kiamat”.
“Orang yang memanjangkan shalat malam dosanya akan diringankan oleh Allah pada
hari kiamat”, ujar Al Auzi.
Hassan bin Athiyyah
berkata, “Barangsiapa berlama-lama dalam mengerjakan shalat malam (Qiyamul
Lail), maka ia akan merasa ringan ketika harus berdiri lama pada hari kiamat”.
Mirip juga apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas r.a., salah
seorang tokoh ilmuwan di zaman Rasulullah, “Barangsiapa yang ingin diberi
kemudahan saat berdiri di depan-Nya pada hari kiamat, hendaklah ia dilihat
Allah sujud di kegelapan malam dan qiyam, sebab takut akhirat dan mengharap
rahmat Tuhannya”. (Tafsir al Quthubi jilid VIII hal.5683)
Wallahu’alam
No comments:
Post a Comment