Tuesday, 22 September 2015

Syafa'at Tahajud di Padang Mahsyar


Muhasabah CINTA (Cerita dan Inspirasi Tahajjud) bersama Ust. Uti Konsen U.M.

Rasulullah saw bersabda, Ketika Allah swt mengumpulkan manusia pertama sampai terakhir, akan datang seseorang yang menyeru dengan suara yang dapat didengar segala khalayak. “Seluruh yang berkumpul hari ini akan mengetahui siapa yang paling pantas mendapat kemuliaan”. Kemudian penyeru itu kembali berseru, “Berdirilah wahai orang-orang yang dahulu lambung mereka jauh dari tempat tidurnya”. Ternyata jumlah mereka hanya sedikit.
Pada suatu malam di Yerussalem, Ibrahim bin Adham mendengar suatu suara dari arah Sakharahah bahwa sejumlah orang berkata, “Jangan tinggalkan shalat tahajud karena ia dapat memadamkan nyala api neraka dan meneguhkan tempat berpijak di atas al sirath”.

Dikisahkan seseorang di hari pembalasan, diadili oleh Allah. Atas saksi-saksi seluruh tubuhnya yang berbicara satu per satu. Ia amat berduka karena pasti dijebloskan ke neraka. Tiba-tiba bulu matanya berkata, “Terus terang saja, menjelang ajalnya pada tengah malam, aku pernah dibasahi dengan air matanya. Ia menangis menyesali perbuatan buruknya itu. Ia betul-betul bertaubat di tengah malam ketika tahajud”, ujar bulu mata.
Bukankah Nabi saw berjanji bahwa apabila seorang hamba melakukan dosa, kemudian bertaubat, walaupun selembar bulu mata dibasahi air matanya, maka cukup memperoleh ampunan dosa, terhindar dari ancaman api neraka.

Rasulullah saw bersabda kepada Abu Hurairah r.a. salah seorang sahabat dekatnya, “Wahai Abu Hurairah. Maukah engkau mendapatkan karunia Allah yang abadi, baik hidup atau mati, di dalam kubur atau ketika dibangkitkan di hari kiamat kelak? Bangunlah di waktu malam, dan lakukan shalat. Apakah engkau mengharapkan perkenan Tuhan, wahai Abu Hurairah? Bershalat malamlah di pojok rumahmu, niscaya rumahmu akan bersinar bagaikan cahaya dan bintang seperti dilihat orang-orang di bumi”.

Umar bin Khattab r.a. berpesan, “Jadikanlah malammu rindu kepada Tuhan, sepi dari pandangan, ambillah kesempatan pada malam itu, jadikanlah ia jalan dari persiapan untuk hari kiyamah yang padanya sulit sekali mencari jalan”.

Begitu utamanya shalat tahajud maka Ummu Sulaiman bin Daud berwasiat kepada anaknya, “Wahai putraku hendaklah engkau tidak tidur malam. Sebab, orang yang tidur malam tidak punya kebaikan di hari penghisaban”.

Yazid bin Al Raqasyi berkata, “Shalat malam merupakan pelita bagi orang muslim yang akan menuntunnya dari segala penjuru di hari kiamat kelak, sedang puasa di siang hari akan menjauhkan seseorang hamba dari panasnya neraka sair”.

Tsabit Al Banani juga berpesan, “Bangun dan shalat malamlah kalian. Sebab ibadah malam dapat menolong kalian dari kesulitan di hari kiamat”. “Orang yang memanjangkan shalat malam dosanya akan diringankan oleh Allah pada hari kiamat”, ujar Al Auzi.

Hassan bin  Athiyyah berkata, “Barangsiapa berlama-lama dalam mengerjakan shalat malam (Qiyamul Lail), maka ia akan merasa ringan ketika harus berdiri lama pada hari kiamat”.
Mirip juga apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas r.a., salah seorang tokoh ilmuwan di zaman Rasulullah, “Barangsiapa yang ingin diberi kemudahan saat berdiri di depan-Nya pada hari kiamat, hendaklah ia dilihat Allah sujud di kegelapan malam dan qiyam, sebab takut akhirat dan mengharap rahmat Tuhannya”. (Tafsir al Quthubi jilid VIII hal.5683)

Wallahu’alam

No comments:

Post a Comment