Setiap kita pasti menghajatkan
rezeki yang lancar, melimpah, halal, bagus, dan berkah. Akan tetapi, tidak semua
yang kita hajatkan itu sesuai dengan realita. Bahkan, realita amat sering
berkebalikan dengan apa yang diinginkan. Alih-alih mendapatkan rezeki yang
lancar, sebagian kita justru mendapati karunia yang terasa lambat.
Jika rezeki benar-benar terasa
lambat, apa yang sebaiknya kita lakukan? Sementara untuk makan, minum, papan,
pendidikan, dan aneka kebutuhan lainnya terus berjalan saban harinya?
Pertama, tetaplah berbaik sangka
kepada Allah Ta’ala. Yakinilah bahwa Dia Maha Mengetahui yang terbaik bagi
hamba-hamba-Nya. Kesadaran ini amat penting, agar kita tidak terjerumus kepada
jalan yang salah. Sebab, soalan terkait rezeki ini amat berpengaruh dalam
keseluruhan hidup kita sebagai seorang hamba di hadapan Tuhannya.
Tetaplah melakukan yang terbaik
dalam menjemput rezeki, tanpa harus menentang aturan-aturan-Nya di dalam
al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Setelah berbaik sangka dan
mengupayakan jalan yang terbaik, pupuklah hati agar senantiasa bertawakkal
kepada Allah Ta’ala. Tawakkal adalah ciri orang yang beriman dan jaminan
kecukupan dari Allah Ta’ala.
Selanjutnya, ikutilah anjuran
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu
Majah, “Jangan sampai lambatnya rezeki menyeret kalian untuk mencarinya dengan bermaksiat
kepada Allah Ta’ala.”
Godaannya berat. Di sinilah iman
dipertaruhkan. Bukankah profesi ‘jualan aurat’ sering dimulai karena alasan
tidak punya pekerjaan, suami tidak bekerja, anak-anak kudu makan dan sekolah,
serta alasan ekonomi lainnya?
Bukankah maksiat korupsi juga
bermula dari tuntutan gaya hidup dan gengsi yang makin meninggi? Termasuk di
dalamnya adalah desakan dari pasangan hidup lantaran salahnya menggunakan
logikanya yang jernih. Semuanya itu semakin lengkap lantaran tipisnya iman, sehingga
lingkungan sekitar menjadi ‘pendukung’, sementara diri sukar menghindari
bisikan nafsu yang ditiup oleh iblis terlaknat.
Pun, di banyak bidang lainnya.
Godaan maksiat dengan iming-iming bayaran yang tinggi amat menjamur jumlahnya.
Termasuk tawaran untuk menjadi bintang di layar kaca dengan membuka aurat atas
nama profesionalisme.
Karenanya, tebalkan dan baguskan
kualitas iman. Senantiasalah meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala.
Percayakan urusan pembagian rezeki pada-Nya. Sebab, Dialah Yang Maha Mengetahui
mana yang terbaik bagi seluruh hamba-Nya.
Kita hanya diminta untuk
mengupayakan. Selanjutnya, biarlah Kuasa-Nya yang membagikan seberapa pun jatah
rezeki untuk kita sekeluarga dan kaum Muslimin secara umum. [Pirman/Kisahikmah]
No comments:
Post a Comment