Thursday, 8 October 2015

Waktu Terbaik untuk Berdo'a dan Shalat Tahajud

Sumber: http://sofyanruray.info/waktu-terbaik-untuk-berdoa-dan-sholat-tahajud/ 

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
“Rabb kita tabaaraka wa ta’ala turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir seraya berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku jawab do’anya, siapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku kabulkan permintaannya, dan siapa yang memohon ampunan kepada-Ku maka akan Aku ampuni dia.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

#Beberapa_Pelajaran:
1. Keutamaan berdoa dan shalat malam (qiyaamullail); tahajjud dan witir, terutama apabila dilakukan di akhir malam. Allah ta’ala berfirman tentang sifat-sifat orang yang bertakwa, إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍآخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَكَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَوَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
🌴 “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, seraya mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” [Adz-Dzariyyat: 15-18]
Allah ta’ala berfirman tentang sifat hamba-hamba Allah yang Maha Penyayang,
وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
“Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri (melakukan shalat) untuk Rabb mereka.” [Al-Furqon: 64]

2. Akhir malam (menjelang Shubuh) adalah waktu terbaik untuk berdoa dan shalat, hendaklah setiap muslim berusaha untuk bangun dan memperbanyak doa, istighfar, dzikir dan sholat, untuk itu hendaklah tidur di awal malam agar mudah bangun di akhir malam, setelah shalat Isya’ jangan lagi berbicara, kecuali sesuatu yang penting. Sahabat yang Mulia Abu Barzah radhiyallahu’anhu berkata,
أنَّ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم كان يكرهُ النَّوم قَبْلَ العِشَاءِ والحَديثَ بَعْدَهَا
“Bahwasannya Rasulullah s.a.w. tidak suka tidur sebelum shalat Isya’ dan berbicara setelahnya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

3. Shalat malam sudah dapat dikerjakan setelah shalat Isya’ sampai sebelum terbit fajar atau masuk waktu Shubuh, tidak disyaratkan untuk shalat malam harus tidur terlebih dahulu. Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha berkata,
مِنْ كُلِّ اللَّيْلِ أَوْتَرَ رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَأَوْسَطِهِ وَآخِرِهِ وَانْتَهَى وِتْرُهُ إلَى السَّحَرِ
“Setiap malam Rasulullah s.a.w. melakukan shalat witir, baik di awal malam, pertengahannya, atau di akhirnya. Dan berakhir waktu witir beliau sampai waktu sahur.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

4. Bagi orang yang khawatir tidak dapat bangun di akhir malam, hendaklah melakukan shalat sebelum tidur. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ خَافَ أَنْ لَا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ، وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ، فَإِنَّ صَلَاةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ، وَذَلِكَ أَفْضَلُ
“Barangsiapa khawatir tidak dapat bangun malam maka hendaklah ia shalat witir di awal malam, dan barangsiapa optimis dapat bangun malam maka hendaklah ia shalat witir di akhir malam, karena sesungguhnya shalat di akhir malam itu disaksikan (oleh para malaikat rahmat), maka itu lebih afdhal.” [HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu’anhu]

5. Kewajiban mengimani sifat perbuatan turunnya Allah ke langit dunia setiap malam, dengan cara turun yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, tidak sama dengan cara turunnya makhluk. Hendaklah waspada dari dua golongan sesat:
Pertama: Golongan mu’atthilah, yang tidak mau mengimani dan meyakininya.
Kedua: Golongan musyabbihah, yang mengimaninya tapi menyamakannya dengan sifat makhluk.

Adapun Ahlus Sunnah mengimani seluruh sifat-sifat Allah, serta meyakini kaifiyyah-nya sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, tidak menyamakannya dengan sifat-sifat makhluk.
Maka wajib mengimani bahwa Allah memiliki sifat nuzul (turun) ke langit dunia di sepertiga malam yang terakhir.
Wajib mengimani bahwa cara turunnya Allah adalah sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, tidak sama dengan cara turunnya makhluk.
Tetapi tidak boleh membayangkan atau menggambarkan cara Allah turun, baik di dalam benak maupun diucapkan dengan lisan.
Demikian pula tidak boleh dibayangkan seperti turunnya makhluk. Apabila makhluk turun maka bagian atasnya menjadi kosong dan berarti bagian atas dan bawah itu lebih besar darinya sehingga ia bisa naik dan turun. Maka hal itu hanya berlaku bagi makhluk. Adapun Allah maka Allah Maha Besar, tidak ada yang dapat meliputi-Nya. Tidak boleh dikiaskan antara makhluk dengan Allah 'azza wa jalla.


No comments:

Post a Comment