Monday, 5 October 2015

Sendal Jepit Murahan

Di satu kesempatan, saya pernah hanya beralaskan kaos kaki berjalan pulang, lumayan jauh dari warnet ke rumah, karena sendal saya dicuri oleh seseorang di warnet tersebut. Masih bisa saya rasakan panasnya aspal di telapak kaki sampai sekarang. Terlebih jika mengingat sang penjaga warnet yang sama sekali tidak beranggung jawab dan tidak menolong saya sedikitpun. Meminjam sendalnya saja untuk saya kembalikan lagi, ditolaknya mentah-mentah.

Di kesempatan yang berbeda, saya pernah sangat rajin menyimpan makanan di kulkas. Dan entah berapa kali saya harus kecewa ketika makanan yang saya simpan tak bersisa sedikitpun, yang tidak saya sukai saya tidak pernah mendengar ada yang minta izin meminta makanan tersebut. Saya beli makanan itu dengan sisa uang yang saya miliki.
Di suatu kesempatan lagi, di awal Ramadhan yang indah. Seperti biasa di rumah selalu ada lauk opor ayam untuk awal Ramadhan dan seperti biasanya juga sayalah yang bertugas ‘menyulap’ ayam yang baru dipotong menjadi sesuatu yang bisa dimakan. Sayangnya, ketika sahur tiba, saya hanya bisa makan mie goreng yang harganya seribuan karena saya hanya disisakan panci kosong dari sepanci opor yang saya sulap malamnya.

Dan di hari yang indah ini, sendal jepit saya satu-satunya juga harus hilang di sekolah. Sepanjang saya mencarinya, terlintas hal-hal yang saya lakukan dulu untuk membeli sendal jepit murahan itu. Mata saya berkaca-kaca, sepanjang jalan pulang, silakan anggap saya cengeng dan pelit, silakan anggap saya orang yang tidak bisa ikhlas menerima kenyataan.

Tapi yang ada dipikiran saya… Sebegitu sulitkah meminta izin? Sebegitu beratkah memahami? Tidakkah bisa berusaha memikirkan apa yang terjadi pada orang yang barangnya dicuri? yang hanya dirampas?

Sepanjang hidup saya, hal yang paling susah saya tolerir adalah orang yang mengambil barang milik orang lain tanpa izin. Untuk mendapatkan hal-hal yang berbau materi, saya harus bekerja keras. Ketika ada seseorang yang mengambilnya tanpa izin, saya sungguh tidak akan marah, tapi entah mengapa saya selalu tidak bisa menahan air mata, untuk hal sekecil apapun.

Mereka yang mengambil tanpa izin tidak pernah tahu, betapa susahnya mendapatkan apa yang mereka ambil. Mereka seakan tidak pernah paham tentang jatuh bangun mendapatkan sesuatu yang diimpikan sendiri. Mereka seakan tidak pernah tahu, banyak hal yang akan terjadi ketika mereka mengambil sesuatu yang bukan hak mereka. MEREKA EGOIS, manusia-manusia egois.

Seperti halnya seorang Abang yang berbadan gendut, mencuri makanan di kulkas. Makanan adiknya yang diberi label kurang gizi oleh teman-temannya.
Seperti halnya manusia-manusia congkak, yang hanya menginginkan kenyamanannya sendiri dan akan melakukan segala hal untuk kenyamanan itu.
Saya tahu, kalian akan berkomentar; ikhlas, legowo, nrimo, sabar, atau bahkan akan beristighfar panjang-panjang karena menganggap saya manusia pelit yang tidak mau menerima takdir Tuhan.

Ini bukan tentang saya, tapi tentang mereka… tentang mereka yang ada di sekitar saya. Saya hanya berkisah tentang dunia kecil saya, yang dipenuhi koruptor-koruptor kecil. Mungkin tidak akan sama dengan dunia kalian, yang dipenuhi oleh koruptor-koruptor besar.

No comments:

Post a Comment