Monday, 19 October 2015

Menggapai Kemuliaan Malam



Saking utama dan mulianya beribadah di malam hari (qiyamul lail), maka di dalam atsar (ujaran sahabat) disebutkan, “Barang siapa terlewat wiridnya pada malam hari, hendaknya ia melakukan shalat antara waktu dhuha dan dzuhur. Apabila itu dilakukan, seakan-akan ia telah shalat pada waktu yang terlewat tersebut “
         
Dalam hadits qudsi, Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, berdzikirlah kepada-Ku setelah subuh sesaat, setelah ashar sesaat, Aku akan mencukupimu di antara kedua waktu tersebut.”
         
Abdullah bin Umar, bila terlewat shalat berjemaah, ia menghidupkan malamnya untuk mengejar yang telah tertinggal. Bila terlambat mengerjakan shalat  maghrib, ia memerdekakan dua budak.
         
Abdullah bin ‘Amr RA berkata, “Rasulullah saw pernah berpesan kepadaku“ Wahai Abdullah, jangan menjadi seperti si Fulan. Dulu dia rajin mendirikan shalat malam, tetapi kemudian meninggalkannya.” Karena pesan inilah, Abdullah bin ‘Amr selalu konsisten mendirikan shalat malam.
         
Umar bin Al-Khattab ra  pernah tertinggal shalat ashar berjamaah. Lalu ia bersedekah dengan tanah miliknya yang bernilai seratus ribu dirham.
         
Ketika orang-orang sudah tertidur, Abdullah bin Mas’ud r.a. bangun untuk shalat malam, lalu membaca Al Quran dengan suara perlahan seperti dengungan lebah.
         
Umar bin Abdul Aziz memiliki mihrab (mushala khusus) di tengah rumahnya. Tidak seorang pun boleh memasukinya. Pada akhir malam, dia mulai bermunajat hingga terbit fajar.
         
Ayyub Al-Sakhtiyani menghidupkan seluruh malam dengan beribadah. Ketika tiba waktu subuh, dia bersuara seolah-olah telah bangun dari tidur.
         
Ibrahim Ak-Taimi selama dua puluh tahun melaksanakan shalat subuh dengan wudhu shalat Isya.
         
Rabi’ah menghidupkan seluruh malamnya, “(Wallaziina yabiituu na lirabbihim sujjadaw waqiyaa maa) Dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri“ (Al Furqan  (25) : 64 ”Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (As-Sajdah 16).
         
Sarri Al-Suqthi melaksanakan shalat pada awal malam sampai subuh tiba. Kemudian ia duduk dan menangis sampai terbit matahari. Orang–orang saleh tetap menangis meskipun telah melakukan ketaatan. Dalam hadis dikatakan “Satu penyesalan ahli surga kelak, satu detik dalam hidupnya tidak zikir kepada Allah“
         
Daud Al-Tha’I berseru pada malam hari, “Tuhanku, keinginan terhadap-Mu telah menyingkirkan segala keinginanku yang lain dan menghalangiku untuk tidur. Kerinduanku untuk bertemu dengan-Mu telah menghalangiku menikmati berbagai kelezatan duniawi. Aku berada di dalam penjara-Mu, wahai Yang Maha Pemurah.”
         
Sebagian orang saleh berkata, “Di tengah kegelapan malam, aku mendengar suara sedih di tepi pantai. Lalu aku menghampirinya, ternyata di sana ada seorang lelaki yang berdiri seraya berkata, ‘Wahai penyejuk mata dan penyenang hati, apa yang menyebabkan aku jatuh di hadapan-Mu ? Beruntunglah hati yang dipenuhi rasa takut (khasyyah) kepada-Mu, dikuasai oleh kecintaan terahadap-Mu. Takut pada murka-Mu dapat mencegah masuknya tujuan-tujuan yang lain. Kecintaan terhadap-Mu memutuskan jalan semua keinginan, selain zikir kepada-Mu. Sesungguhnya, mereka tidak menginginkan apa yang kalian inginkan, dan mereka tidak butuh ketenaran. . . suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya“ (Al Maidah (5) : 54)
         
Mereka para salafus saleh yakin dengan firman Tuhan “Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat)“ (QS.Al-Syu’ara (26 ) : 218)
         
Wallahu’alam

No comments:

Post a Comment