Untuk anakku,
Nak, masihkah engkau mengingatku? Ibu guru yang tiga tahun menjadi wali kelasmu.
Kini ibu telah tua, tangan, kaki, dan wajah ibu kini telah keriput dan tak kencang seperti dulu kala. Suara ibu kini kecil bahkan terdengar serak.
Belum lagi dengan langkah ibu yang semakin lambat, lebih lambat dari seekor kura-kura yang sering ibu ceritakan sebelum kalian belajar. Mata ibu buram, bahkan terkadang gelap dan tak mampu untuk melihat.
Tapi Ibu masih mengingatmu nak, satu dari 44 orang anak yang menjadi anak didik ibu.
Anakku.. kau sudah ku anggap seperti anakku sendiri. Jari-jari kecilmu yang selalu ibu genggam saat turun hujan. Suaramu gemetar di kala terdengar suara petir menyambar. Ibu masih mengingatnya nak. Masihkah engkau seperti itu?
Kau membuat ibu menangis saat perpisahan kelas tiba. Kala itu kau masih kelas tiga. kau menjadi perwakilan kelas tiga untuk tampil di depan panggung. Ibu terkejut saat mendengar bait-bait perkataanmu.
“Ibu, kami sayang ibu. Kakak kelas enam juga sayang ibu, adik kelas satu, kelas dua, semua sayang ibu. Ibu baik, tapi lain kali tolong ajarkan kami berpidato ya bu.”
Saat itu serentak orang-orang menertawakanmu, kau turun panggung dan menangis ke arahku. “Ibu, aku tak pantas mewakili kelas, aku minta maaf ya bu.”
Nak, tahukah kamu? Kata-katamu itu menyayat hati ibu, itulah yang dinamakan ketulusan.
Semenjak kejadian itu, kau terus menerus berlatih menyampaikan pidato. Kau ingin menunjukkan kepada orang yang menertawakanmu bahwa mereka telah melakukan hal yang salah.
Tiba saatnya kau mengakhiri masa SD mu disini. Benar. Kau berpidato dan orang-orang takjub kepadamu.
Ibu bangga kepadamu sayang, kejadian yang sama terjadi. Turun dari panggung kau menangis dan menghampiriku. Kali ini perkataanmu berbeda, kau berterima kasih pada ibu. Tangisanmu kala itu kembali menyayat hatiku.
Ketika kau memasuki bangku SMP, walaupun ibu sudah tidak lagi menjadi gurumu, tapi ibu tak pernah berhenti mencari tahu perkembanganmu.
Kau pintar, semua berbicara seperti itu. Sampai di bangku SMA, kau masih menjadi murid kebanggaan ibu.
Nak, ibu bahagia sekali ketika mendengar kau melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Saat ke 44 teman sekelasmu dulu tak bisa untuk melanjutkannya.
Saat kau lewat dengan tas besar di pundakmu. Ibu selalu berkata, “Itu muridku, murid kesayanganku.”
Ibu terlalu bangga terhadapmu nak, kau lulus dan melanjutkan S2. Ibu dengar kau melanjutkannya ke Amerika, ibu semakin bangga terhadapmu.
Pulang dari negeri Paman Sam, ibu dikejutkan dengan berita diangkatnya kamu menjadi petinggi negara. Nak, kebanggaan bagi ibu dan sekolah kita memiliki murid yang kini menjadi pejabat. Kini ibu sudah semakin tua, ibu ragu dengan pendengaran ibu.
Dua minggu yang lalu, ibu mendengar di televisi tapi ibu harap itu salah. Ibu tak menginginkan hal itu terjadi.
Nak, benarkah kau seorang koruptor? Nak, tolong jelaskan pada ibu kalau itu semua salah. Anak kebanggaan ibu tak mungkin seperti itu.
Ibu tak mau melihat televisi, ibu tak mau keluar rumah. Semua orang menjelekkanmu nak, ibu sedih ketika mendengar anak ibu dicaci maki.
Sampai suatu ketika, keluar pengakuan dari mulutmu bahwa kau telah melakukan kekejian itu.
Ya Allah nak, hati ibu sakit. Ibu tak pernah mengajari kamu untuk mencuri. Ibu tak pernah menyuruh kamu untuk mengambil hak orang lain.
Ke mana kamu yang dulu nak? Ibu mengajari kamu berpidato, bukan untuk mencuci otak orang dengan berbagai kebohongan.
Nak, tidakkah kamu berpikir pertanggungjawaban ibu di akhirat kelak? Kamu murid ibu nak, murid kebanggaan ibu. Sekaligus murid yang telah mengecewakan hati ibu.
Nak, masihkah engkau mengingatku? Ibu guru yang tiga tahun menjadi wali kelasmu.
Kini ibu telah tua, tangan, kaki, dan wajah ibu kini telah keriput dan tak kencang seperti dulu kala. Suara ibu kini kecil bahkan terdengar serak.
Belum lagi dengan langkah ibu yang semakin lambat, lebih lambat dari seekor kura-kura yang sering ibu ceritakan sebelum kalian belajar. Mata ibu buram, bahkan terkadang gelap dan tak mampu untuk melihat.
Tapi Ibu masih mengingatmu nak, satu dari 44 orang anak yang menjadi anak didik ibu.
Anakku.. kau sudah ku anggap seperti anakku sendiri. Jari-jari kecilmu yang selalu ibu genggam saat turun hujan. Suaramu gemetar di kala terdengar suara petir menyambar. Ibu masih mengingatnya nak. Masihkah engkau seperti itu?
Kau membuat ibu menangis saat perpisahan kelas tiba. Kala itu kau masih kelas tiga. kau menjadi perwakilan kelas tiga untuk tampil di depan panggung. Ibu terkejut saat mendengar bait-bait perkataanmu.
“Ibu, kami sayang ibu. Kakak kelas enam juga sayang ibu, adik kelas satu, kelas dua, semua sayang ibu. Ibu baik, tapi lain kali tolong ajarkan kami berpidato ya bu.”
Saat itu serentak orang-orang menertawakanmu, kau turun panggung dan menangis ke arahku. “Ibu, aku tak pantas mewakili kelas, aku minta maaf ya bu.”
Nak, tahukah kamu? Kata-katamu itu menyayat hati ibu, itulah yang dinamakan ketulusan.
Semenjak kejadian itu, kau terus menerus berlatih menyampaikan pidato. Kau ingin menunjukkan kepada orang yang menertawakanmu bahwa mereka telah melakukan hal yang salah.
Tiba saatnya kau mengakhiri masa SD mu disini. Benar. Kau berpidato dan orang-orang takjub kepadamu.
Ibu bangga kepadamu sayang, kejadian yang sama terjadi. Turun dari panggung kau menangis dan menghampiriku. Kali ini perkataanmu berbeda, kau berterima kasih pada ibu. Tangisanmu kala itu kembali menyayat hatiku.
Ketika kau memasuki bangku SMP, walaupun ibu sudah tidak lagi menjadi gurumu, tapi ibu tak pernah berhenti mencari tahu perkembanganmu.
Kau pintar, semua berbicara seperti itu. Sampai di bangku SMA, kau masih menjadi murid kebanggaan ibu.
Nak, ibu bahagia sekali ketika mendengar kau melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Saat ke 44 teman sekelasmu dulu tak bisa untuk melanjutkannya.
Saat kau lewat dengan tas besar di pundakmu. Ibu selalu berkata, “Itu muridku, murid kesayanganku.”
Ibu terlalu bangga terhadapmu nak, kau lulus dan melanjutkan S2. Ibu dengar kau melanjutkannya ke Amerika, ibu semakin bangga terhadapmu.
Pulang dari negeri Paman Sam, ibu dikejutkan dengan berita diangkatnya kamu menjadi petinggi negara. Nak, kebanggaan bagi ibu dan sekolah kita memiliki murid yang kini menjadi pejabat. Kini ibu sudah semakin tua, ibu ragu dengan pendengaran ibu.
Dua minggu yang lalu, ibu mendengar di televisi tapi ibu harap itu salah. Ibu tak menginginkan hal itu terjadi.
Nak, benarkah kau seorang koruptor? Nak, tolong jelaskan pada ibu kalau itu semua salah. Anak kebanggaan ibu tak mungkin seperti itu.
Ibu tak mau melihat televisi, ibu tak mau keluar rumah. Semua orang menjelekkanmu nak, ibu sedih ketika mendengar anak ibu dicaci maki.
Sampai suatu ketika, keluar pengakuan dari mulutmu bahwa kau telah melakukan kekejian itu.
Ya Allah nak, hati ibu sakit. Ibu tak pernah mengajari kamu untuk mencuri. Ibu tak pernah menyuruh kamu untuk mengambil hak orang lain.
Ke mana kamu yang dulu nak? Ibu mengajari kamu berpidato, bukan untuk mencuci otak orang dengan berbagai kebohongan.
Nak, tidakkah kamu berpikir pertanggungjawaban ibu di akhirat kelak? Kamu murid ibu nak, murid kebanggaan ibu. Sekaligus murid yang telah mengecewakan hati ibu.
No comments:
Post a Comment